Sabtu, 06 Oktober 2012

Karya Tulis Ilmiah "Organisasi Sekolah".


              BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah
Peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manuasia, baik secara individual maupun sebagai anggota masyarakat. Kegiatan untuk mengembangkan potensi itu harus dilakukan secara berencana, terarah dan sistematik guna mencapai tujuan tertentu.
Pengorganisasian suatu sekolah tergantung pada beberapa aspek antara lain: jenis, tingkat dan sifat sekolah yang bersangkutan. Susunan organisasi sekolah tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan tentang susunan organisasi dan tata kerja jenis sekolah tersebut (Depdikbud, 1983:2).


Dalam struktur organisasi terlihat hubungan dan mekanisme kerja antara kepala sekolah, guru, murid dan pegawai tata usaha sekolah serta pihak lain di luar sekolah. Kepala sekolah sebagai pengelola sekolah mempunyai peranan yang sangat strategis dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah dan diharapkan mampu meningkatkan iklim sekolah yang kondusif bagi terlaksanannya proses belajar mengajar yang efektif, serta mengaktuaklisasikan sumber daya yang ada di sekolah seoptimal mungkin dalam menunjang proses belajar mengajar. Setiap kepala sekolah harus menguasai kemampuan manajemen pendidikan yang efektif.
Sebagai seorang manajer, kepala sekolah perlu melakukan pendekatan terhadap strategi global sebagai suatu tuntutan untuk dapat mengelolah organisasi sekolah secara berhasil. Menurut Swastikalia (2012:3) organisasi sekolah adalah
Sistem yang bergerak dan berperan dalam merumuskan tujuan pendewasaan manusia sebagai mahluk sosial agar mampu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan begitu  disana kita bisa belajar bagaimana cara menyikapi diri kita ketika berhadapan dengan suatu masalah sehingga kita bisa menyelesaikannya.


Memimpin organisasi sekolah yang produktif berarti mengetahui dan memahami perilaku individu di dalam organisasi sekolah tempat kerja para guru dan seluruh staf yang terlibat, dan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan organisasi sekolah.
Organisasi sekolah terdiri dari Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Bendahara Sekolah, Kepala Tata Usaha, Guru Kelas, Guru Mata Pelajaran, Penjaga Sekolah, Siswa, dan Masyarakat. Didalam organisasi sekolah, peranan utama kepala sekolah sebagai pemimpin organisasi (Organizational Leader) yang dimana wajib mengerahkan seluruh staf sekolah untuk bekerja sama sebagai tim dalam rangka melaksanakan program pertumbuhan dan peningkatan bagi seluruh siswa agar dapat berhasil secara akademik. Sehubungan dengan itu, tantangan utama kepala sekolah sebagai pemimpin organisasi adalah bagaimana dia dapat memadukan antara kepentingan organisasi sekolah dan berbagai potensi, minat dan bakat para anggotanya sebagai asset demi kemajuan sekolah.
Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan oleh kelompok 1 di SD Inpres Tallo Tua I Kecamatan Tallo Kota Makassar, ditemukan fakta bahwa ternyata sekolah ini telah merumuskan dan membentuk organisasi sekolah. Organisasi ini dalam perumusannya melibatkan unsur pengawas sekolah, sekolah, dan masyarakat. Organisasi sekolah yang telah di sahkan ini secara struktur memang terlihat sempurna tetapi didalam wilayah kerja organisasi tidak berjalan ideal. Hal tersebut terjadi karena ketidak pahaman akan fungsi dan mekanisme kerja organisasi. Komite sekolah yang diharapkan dapat membantu sekolah dalam merumuskan beberapa hal yang sangat urgen tetapi tidak mampu bekerja secara optimal. Hal yang mendasari asumsi diatas karena komite sekolah tidak mampu menjabarkan secara terperinci potensi sumber daya alam sekitar sekolah dan tidak mampu merumuskan kriteria ketuntasan mengajar di kelas dan kriterian ketuntasn mengajar sekolah.
Berangkat dari kenyataan diatas, maka kelompok I tertarik untuk merumuskan dan menuliskan karya tulis ilmiah yang berjudul “Organisasi Sekolah”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah “Apakah yang dimaksud dengan Organisasi Sekolah?”.

C.     Tujuan
Karya tulis ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Karya tulis ilmiah bertujuan mendeksripsikan Organisasi Sekolah.

D.     Mamfaat
Mamfaat yang diharapkan dalam karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mamfaat Teoritis
a.       Memperkaya kajian ilmu pendidikan
b.      Menambah wawasan, pengalaman kelompok I, khususnya dalam pendiskusian, perumusan, dan penulisan karya tulis ilmiah ini untuk memenuhi salah syarat untuk lulus pada mata kuliah administrasi dan supervisi pendidikan pada program studi pendidikan guru sekolah dasar (Prodi PGSD) di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (FIP UNM).
c.       Bagi Kelompok I dan Kelas A. 61, Menjadi bahan referensi dan informasi di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan calon guru, kepala sekolah,  dan guru.






2.      Mamfaat Praktis
a.       Memperbaiki kualitas sekolah dasar dengan efisiensi dan efektivitas organisasi sekolah.
b.      Bagi Guru, diharapkan menjadi informasi dan referensi yang berharga dalam usaha mengembangkan dan mengelolah organisasi sekolah sehingga dapat meningkat kinerja kompetensi dan profesionalismenya.
c.       Bagi Sekolah, diharapkan menjadi informasi dan referensi yang berharga dalam usaha mengembangkan dan meningkatkan kualitas sekolah melalui organisasi sekolah.













BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian organisasi sekolah
Organisasi secara umum dapat diartikan memberi struktur atau susunan yakni dalam penyusunan penempatan orang-orang dalam suatu kelompok kerja sama, dengan maksud menempatkan hubungan antara orang-orang dalam kewajiban-kewajiban, hak-hak dan tanggung jawab masing-masing. Menurut Suara Komunitas (2010:1) organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar keterikatan yang relatif terus menerus untuk mencapai tujuan atau sekelompok tujuan. Selanjutnya menurut Suyantoro (2007:1) organisasi adalah “suatu pengaturan orang-orang yang sengaja untuk mencapai tujuan tertentu”. Berdasarkan pengertian 2 ahli diatas mengenai organisasi, maka dapat dismpulkan bahwa organisasi adalah “berkumpulnya beberapa orang didalam suatu wadah karena kesamaan cara pandang, visi misi demi untuk mencapai suatu tujuan bersama”.
Dalam penyelenggaraan pendidikan lembaga pendidikan tidak dapat lepas dari organisasi sekolah. Menurut Swastikalia (2012:2) organisasi sekolah adalah “sistem yang bergerak dan berperan dalam merumuskan tujuan pendewasaan manusia sebagai mahluk sosial agar mampu berinteraksi dengan lingkungan”. Dengan begitu  disana kita bisa belajar bagaimana cara menyikapi diri kita ketika berhadapan dengan suatu masalah sehingga kita bisa menyelesaikannya. Proses pendewasaan manusia bertujuan untuk dapat menyikapi masalah kita dengan baik dan kita juga mampu berinteraksi sebagai mana peran kita didalam suatu lingkungan.
Dari pendapat ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah “sebuah bentuk atau sistem yang sangat kompleks karena terdiri dari beberap kelompok manusia yang berkerjasama untuk mencapai tujuan bersama”. Sekolah dikatakan sebagai sebuah organisasi karena sekolah didirikan untuk mencapai tujuan bersama khususnya di bidang pendidikan.

B.  Bentuk-Bentuk Organisasi Sekolah
Setiap unit kerja pastinya dipimpin oleh seorang kepala/pimpinan yang menduduki posisi menurut tingkat unit kerjanya di dalam keseluruhan organisasi. Posisi, tanggung jawab dan wewenang di dalam suatu kelompok formal terikat pada struktur dan dibatasi oleh peraturan-peraturan yang mendasari pembentukan organisasi kerja tersebut. Hubungan kerja yang didasari wewenang dan tanggung jawab, baik secara vertikal maupun horizontal dan diagonal akan menunjukan pola tertentu sebagai mekanisme kerja. Dengan kata lain pembagian tugas, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab serta arus perwujudan tugas, akan menggambarkan tipe atau bentuk organisasi kerja.
Menurut Swastikalia (2012:2) tipe-tipe organisasi itu antara lain “Organisasi Lini (Line Organization), Organisasi Staf (Staff Organization), Bentuk Gabungan (Line and Staff Organization), Organisasi Fungsional (Fungsional Organization)”.

C.     Stuktur Organisasi Sekolah
1.      Pengertian struktur organisasi sekolah
Menurut Swastikalia (2012:4) struktur organisasi sekolah adalah “struktur yang mendasari keputusan para pembina atau pendiri sekolah untuk mengawali suatu proses perencanaan sekolah yang strategis”. Dari pendapat ahli sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa organisasi sekolah juga dapat dikatakan sebagai  seperangkat hukum yang mengatur formasi dan administrasi atau tata laksana organisasi-organisasi sekolah di Indonesia.

2.      Macam-macam Struktur Organisasi
Struktur Organisasi pendidikan yang pokok ada dua macam yaitu sentralisasi dan desentralisasi. Di antara kedua struktur tersebut terdapat beberapa struktur campuran yakni yang lebih cenderung ke arah sentralisasi mutlak dan yang lebih mendekati disentralisasi tetapi beberapa bagian masih diselenggarakan secara sentral. Pada umumnya, struktur campuran inilah yang berlaku dikebanyakan negara dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi bangsanya.





a.       Struktur Sentralisasi
Di negara-negara yang organisasi pendidikannya dijalankan secara sentral, yakni yang kekuasaan dan tanggung jawabnya dipusatkan pada suatu badan di pusat pemerintahan maka pemerintah daerah kurang sekali atau sama sekali tidak mengambil bagian dalam administrasi apapun. Segala sesuatu yang mengenai urusan-urusan pendidikan, dari menentukan kebijakan (poliey) dan perencanaan, penentuan struktur dan syarat-syarat personel, urusan kepegawaian, sampai kepada penyelenggaraan bangunan-bangunan sekolah, penentuan kurikulum, alat-alat pelajaran, soal-soal dan penyelenggaraan ujian-ujian, dan sebagainya. Semuanya ditentukan dan ditetapkan oleh dan dari pusat. Bawahan dan sekolah-sekolah hanya merupakan pelaksana-pelaksana pasif dan tradisional semata-mata. Sesuai dengan sistem sentralisasi dalam organisasi pendidikan ini, kepala sekolah dan guru-guru dalam kekuasaan dan tanggung jawabnya, serta dalam prosedur-prosedur pelaksanaan tugasnya sangat dibatasi oleh peraturan-peraturan dan instruksi-instruksi dari pusat yang diterimanya melalui kirarkhi atasannya.
Dalam sistem sentralisasi semacam ini, ciri-ciri pokok yang sangat menonjol adalah keharusan adanya uniformitas (keseragaman) yang sempurna bagi seluruh daerah di lingkungan negara itu. Keseragaman itu meliputi hampir semua kegiatan pendidikan, teutama di sekolah-sekolah yang setingkat dan sejenis.
Menurut Swastikalia (2012:4) keburukan/keberatan yang prinsipil jika struktur sentralisasi diterapkan yaitu “Administrasi yang demikian cenderung kepada sifat-sifat otoriter dan birokratis, Organisasi dan administrasi berjalan sangat kaku karena terlalu banyak kekuasaan dan pengawasan sentral”.
b.      Struktur Desentralisasi
Negara yang organisasi pendidikannya di-desentralisasikan, pendidikan bukan urusan pemerintah pusat melainkan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan rakyat setempat. Penyelenggaraan dan pengawasan sekolah-sekolah pun berada sepenuhnya dalam tangan penguasa daerah.
Pemerintah daerah membagi-bagikan lagi kekuasaannya kepada daerah yang lebih kecil lagi, seperti kabupaten/kota, distrik, kecamatan dan seterusnya dalam penyelengaraan dan pembangunan sekolah, sesuai dengan kemampuan, kondisi-kondisi, dan kebutuhan masing-masing. Tiap daerah atau wilayah diberi otonomi yang sangat luas yang meliputi penentuan anggaran biaya, rencana-rencana pendidikan, penentuan personel/guru, gaji guru-guru pegawai sekolah, buku-buku pelajaran, juga tentang pembangunan, pemakaian serta pemeliharaan gedung sekolah.
Struktur organisasi pendidikan yang dijalankan secara desentralisasi seperti ini, kepala sekolah tidak semata-mata merupakan seorang guru kepala, tetapi seorang pemimpin, profesional dengan tanggung jawab yang luas dan langsung terhadap hasil-hasil yang dicapai oleh sekolahnya. Bertanggung jawab langsung terhadap pemerintahan dan masyarakat awan dan masyarakat sekolah serta melaksanakan control yang langsung dari pemerintahan dan masyarakat setempat. Hal ini disebabkab karena kepala sekolah dan guru-guru adalah petugas-petugas atau karyawan-karyawan pendidik yang dipilih, diangkat, dan diberhentikan oleh pemerintah daerah setempat.
Sistem desentralisasi yang ekstrim seperti ini ada kebaikan dan keburukannya. Beberapa kebaikan yang dapat terjadi menurut Swastikalia (2012:8) adalah:
1)      Pendidikan dan pengajaran dapat disesuaikan dengan memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
2)      Adanya persaingan yang sehat diantara daerah atau wilayah sehingga masing-masing berlomba-lomba untuk menyelenggarakan sekolah dan pendidikan yang baik.
3)      Kepala sekolah, guru-guru, dan petugas-petugas pendidikan yang lain akan bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh karena dibiayai dan dijamin hidupnya oleh pemerintah da masyarakat setempat.


Beberapa keburukannya yang dapat terjadi adalah:
1)      Karena otonomi yang sangat luas, kemungkinan program pendidikan diseluruh negara akan berbeda-beda. Hal ini akan menimbulkan perpecahan bangsa.
2)      Hasil pendidikan dan pengajaran tiap-tiap daerah atau wilayah sangat berbeda-beda, baik mutu, sifat maupun jenisnya, sehngga menyulitkan bagi pribadi murid dalam mempraktekkan pengetahuan atau kecakapannya dikemudian hari di dalam masyarakat yang lebih luas.
3)      Kepala sekolah, guru-guru, dan petugas pendidikan lainnya cenderung untuk menjadi karyawan-karyawan yang materialistis, sedangkan tugas dan kewajiban guru pada umumnya lain dari pada karyawan-karyawan yang bukan guru.
4)      Penyelenggaraan dan pembiayaan pendidikan yang diserahkan kepada daerah atau wilayah itu mungkin akan sangat memberatkan beban mayarakat setempat (Ngalim Purwanto, 1991:26-27).
D.    Wewenang dan Tanggung Jawab Organisasi Sekolah
Setelah mengetahui struktur sekolah seperti apa, maka sebaiknya kita juga harus tahu apa saja wewenang dan tanggung jawab sekolah. Sebelum itu kita lihat pengertian dari wewenang dan tanggung jawab itu sendiri. Wewenang (Authority) merupakan syaraf yang berfungsi sebagai penggerak dari pada kegiatan-kegiatan. Wewenang yang bersifat informal, untuk mendapatkan kerjasama yang baik dengan bawahan. Disamping itu wewenang juga tergantung pada kemampuan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kepemimpinan. Wewenang berfungsi untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang ada dalam organisasi. Wewenang dapat diartikan sebagai hak untuk memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tujuan dapat tercapai. Handoko (Swastikalia, 2012:9) membagi wewenang dalam dua sumber, yaitu “teori formal (pandangan klasik) dan teori penerimaan”. Wewenang formal merupakan wewenang pemberian atau pelimpahan dari orang lain. Wewenang ini berasal dari tingkat masyarakat yang sangat tinggi dan secara hukum diturunkan dari tingkat ke tingkat. Berdasarkan teori penerimaan (Acceptance Theory Of Authority) wewenang timbul hanya bila hal diterima oleh kelompok atau individu kepada siapa wewenang tersebut dijalankan dan ini tidak tergantung pada penerima (Receiver).


Bamard (Swastikalia, 2012:10) mengatakan bahwa seseorang bersedia menerima komunikasi yang bersifat kewenangan “jika memenuhi dan memahami komunikasi tersebut, tidak menyimpang dari tujuan organisasi, mampu secara mental dan fisik untuk mengikutinya”.
Menurut Swastikalia (2012:10) agar wewenang yang dimiliki oleh seseorang dapat ditaati oleh bawahan maka diperlukan adanya:
1.      Kekuasaan (Power) yaitu kemampuan untuk melakukan hak tersebut, dengan cara mempengaruhi individu, kelompok, keputusan. Menurut jenisnya kekuasaan dibagi menjadi dua yaitu :
a.       Kekuasaan posisi (Position Power) yang didapat dari wewenang formal, besarnya ini tergantung pada besarnya pendelegasian orang yang menduduki posisi tersebut.
b.      Kekuasaan pribadi (Personal Power) berasal dari para pengikut dan didasarkan pada seberapa besar para pengikut mengagumi, respek dan merasa terikat pada pimpinan.

2.      Macam-macam Kekuasaan, yaitu:
a.       Kekuasaan balas jasa (Reward Power) dapat berupa uang, suaka, perkembangan karier dan sebagainya yang diberikan untuk melaksanakan perintah atau persyaratan lainnya.
b.      Kekuasaan paksaan (Coercive Power) berasal dari apa yang dirasakan oleh seseorang bahwa hukuman (dipecat, ditegur, dan sebagainya) akan diterima bila tidak melakukan perintah,
c.       Kekuasaan sah (Legitimate Power) Berkembang dari nilai-nilai intern karena seseorang tersebut telah diangkat sebagai pemimpinnya.
d.      Kekuasaan pengendalian informasi (Control Of Information Power) berasal dari pengetahuan yang tidak dipercaya orang lain, ini dilakukan dengan pemberian atau penahanan informasi yang dibutuhkan.
e.       Kekuasaan panutan (Referent Power) didasarkan atas identifikasi orang dengan pimpinan dan menjadikannya sebagai panutan.
f.        Kekuasaan ahli (Expert Power) yaitu keahlian atau ilmu pengetahuan seseorang dalam bidangnya.

Tanggung jawab dan akuntabilitas tanggung jawab (Responsibility), yaitu kewajiban untuk melakukan sesuatu yang timbul bila seorang bawahan menerima wewenang dari atasannya. Akuntability yaitu permintaan pertanggung jawaban atas pemenuhan tanggung jawab yang dilimpahkan kepadanya. Penting untuk diperhatikan bahwa wewenang yang diberikan harus sama dengan besarnya tanggung jawab yang akan diberikan dan diberikan kebebasan dalam menentukan keputusan-keputusan yang akan diambil. Pengaruh (Influence) yaitu transaksi dimana seseorang dibujuk oleh orang lain untuk melaksanakan suatu kegiatan sesuai dengan harapan orang yang mempengaruhi. Pengaruh dapat timbul karena status jabatan, kekuasaan dan menghukum, pemilikan informasi lengkap juga penguasaan saluran komunikasi yang lebih baik.
Setelah melihat pengertian wewenang dan tanggung jawab di atas, maka dapat disimpulkan bahwa wewenang dan tanggung jawab sekolah adalah hak dari organisasi sekolah untuk memerintah orang lain untuk melakukan sesuatu di sertai pertanggung jawaban dari organisasi sekolah dalam mengambil keputusan agar tujuan dapat tercapai.
Berikut ini adalah pembagian wewenang dan tanggung jawab dalam organisasi sekolah:
1.      Kepala Sekolah: Wewenang dan Tanggung Jawabnya, antara lain :
a.        Menjaga terlaksananya dan ketercapaian program kerja sekolah
b.       Menjabarkan, melaksanakan dan mengembangkan Pembelajaran Kurikulum/Program
c.        Mengembangkan SDM
d.       Melakukan pengawasan dan supervisi tenaga pendidik dan kependidikan
e.        Melakukan hubungan kerjasama dengan pihak luar
f.         Merencanakan, mengelola dan mempertanggung jawabkan keuangan
g.       Mengangkat dan menetapkan personal struktur organisasi
h.       Menetapkan program kerja sekolah
i.         Mengesahkan perubahan kebijakan mutu organisasi
j.         Melegalisasi dokumen organisasi
k.        Memutuskan mutasi siswa
l.         Mengusulkan promosi dan mutasi pendidik dan tenaga kependidikan
m.      Menerbitkan dokumen yang dikeluarkan sekolah
n.       Memberi pembinaan warga sekolah
o.       Memberi penghargaan dan sanksi
p.       Memberi penilaian kinerja pendidik dan tenaga kependidikan

2.      Komite Sekolah: Wewenang dan Tangung jawabnya, antara lain:
a.        Memberikan masukan terhadap kebijakan mutu pendidikan
b.       Mengawasi kebijakan sekolah.
3.      Kepala Tata Usaha: Wewenang dan tanggung jawab tata usaha, antara lain :
a.        Menyusun dan melaksanakan program tata usaha sekolah.
b.       Menyusun dan melaksanakan kegiatan keuangan sekolah.
c.        Mengurus administrasi kepegawaian.
d.       Mengurus administrasi kesiswaan.
e.        Menyusun administrasi perlengkapan sekolah.
f.         Menyusun dan menyajikan data statistik sekolah.
g.       Menyusun administrasi lainnya.
h.       Melaporkan semua tugas dan tanggung jawabnya kepada kepala sekolah secara berkala.


4.      Guru: Wewenang dan tanggung jawabnya, antara lain:
a.       Mengetahui tugas pokoknya sendiri yaitu memberikan pelajaran sesuai dengan bidang studi.
b.      Mengevaluasi hasil pekerjaannya.
c.       Mewakili kepala sekolah dan orang tua siswa di kelas.
d.      Mengetahui tugas-tugas yang diberikan kepada siswa dan memeriksa hasil tugas itu untuk dinilai.
e.       Memperhatikan kelakuan dan kerajinan siswa sebagai bahan laporan kepada kepala sekolah, wali kelas.
f.        Memecahkan masalah-masalah pelajaran yang dihadapi siswa untuk memberikan bimbingan pelajaran kepada siswa yang cerdas, siswa yang kurang cerdas, dan siswa yang membandel.
g.       Memperhatikan hasil ulangan EBTA, EBTANAS, dan mengisi daftar nilai siswa.
h.       Melaporkan kepada kepala sekolah tentang hasil kerjanya.

5.      Siswa: Wewenang dan tanggung jawabnya, antara lain:
a.       Menuntut ilmu sebaik-baiknya.
b.      Mempertanggung jawabkan hasil pembelajarannya.
c.       Mematuhi peraturan yang sudah di tetapkan oleh pihak sekolah.




E.   Pentingnya Organisasi Sekolah
Organisasi secara umum dapat diartikan memberi struktur atau susunan yakni dalam penyusunan/ penempatan orang-orang dalam suatu kelompok kerja sama, dengan maksud menempatkan hubungan antara orang-orang dalam kewajiban-kewajiban, hak-hak dan tanggung jawab masing-masing. Penentuan struktur, hubungan tugas dan tanggung jawab itu dimaksudkan agar tersusun suatu pola kegiatan untuk menuju ke arah tercapainya tujuan bersama.
Organisasi sekolah yang baik menghendaki agar tugas-tugas dan tanggung jawab dalam menjalankan penyelenggaraan sekolah untuk mencapai tujuannya dibagi secara merata dengan baik sesuai dengan kemampuan dan wewenang yang telah ditentukan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan sesudah semestinya mempunyai organisasi yang baik agar tujuan pendidikan formal ini tercapai sepenuhnya. Kita mengetahui unsur personal di dalam lingkungan sekolah adalah, kepala sekolah, guru, karyawan, dan murid. Di samping itu sekolah sebagai lembaga pendidikan formal ada di bawah instansi atasan baik itu kantor dinas atau kantor wilayah departemen yang bersangkutan. Di negara kita, kepala sekolah adalah jabatan tertinggi di sekolah itu, sehingga ia berperan sebagai pemimpin sekolah dan dalam struktur organisasi sekolah ia didudukkan pada tempat paling atas.
Melalui struktur organisasi yang ada tersebut orang akan mengetahui apa tugas dan wewenang kepala sekolah, apa tugas guru, apa tugas karyawan sekolah (yang biasa dikenal sebagai pengawai tata usaha).
Demikian juga terlihat apakah di suatu sekolah dibentuk satuan tugas (unit kerja) tertentu seperti bagian UKS (Usaha Kesehatan Sekolah), bagian perpustakaan, bagian kepramukaan, dan lain-lain sehingga keadaan ini tentunya akan memperlancar jalannya "roda" pendidikan di sekolah tersebut.
Dengan organisasi yang baik dapat dihindari tindakan kepala sekolah yang menunjukkan kekuasaan yang berlebihan (otoriter). Suasana kerja dapat lebih berjiwa demokratis karena timbulnya partisipasi aktif dari semua pihak yang bertanggung jawab. Partisipasi aktif yang mendidik (pedagogis) dapat digiatkan melalui kegairahan murid sendiri yang bergerak dengan wadah OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah).  Oleh karena itu di dalam memikirkan pembentukan organisasi sekolah, maka fungsi dan peranan OSIS tidak boleh dilupakan.

G.  Faktor-faktor Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Menyusun Organisasi Sekolah

1.      Tingkat Sekolah: Berdasarkan tingkatnya sekolah yang ada di Indonesia dapat dibedakan atas:
a.       Sekolah Dasar (SD)
b.      Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
c.       Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)
d.      Perguruan Tinggi

Keadaan fisik dan perkembangan jiwa anak jelas berbeda antara anak tingkat yang satu dengan tingka berikutnya. Contohnya : di sekolah dasar biasanya tidak ada seksi bimbingan penyuluhan (Guidance and Conseling) sebab masalah ini merupakan tugas rangkapan dari kepala sekolah, dan hingga saat ini yang memegang adalah pemerintah dan Departemen P dan K tidak atau belum mengangkat seorang pembimbing khusus bagi sekolah dasar.
Lain halnya dengan sekolah lanjutan, biasanya tersedia satu orang tenaga konselor atau pembimbing dengan tugas pokoknya sebagai pembimbing. Karena itu biasanya di sekolah lanjutan dalan struktur organisasinya kita dapati seksi GC (Guidance and Conseling/ seksi bimbingan penyuluhan). Masih banyak bidang-bidang lain yang ditangani secara khusus pada sekolah lanjutan tetapi tidak demikian pada sekolah dasar, misalnya masalah Organisasi Intara Sekolah (OSIS), penggarapan majalah dinding, pengelolaan perpustakaan sekolah, dan bagian pengajaran yang menangani kelancaran dan pengembangan kurikulum/program pendidikan dan pengajaran.
Pada perguruan tinggi yang kita jumpai banyak bidang tugas yang ditangani secara khusus lebih banyak daripada tugas-tugas dari sekolah lanjutan. Ciri khas perguruan tinggi di Indonesia yang mengemban tugas Tri Dharma perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat memungkinkan perguruan tinggi berkembang secara otonom, sehingga semakin bervariasi susunan organisasinya.

2.      Jenis Sekolah

Berdasarkan jenis sekolah, kita membedakan ada sekolah umum dan sekolah kejuruan. Sekolah umum adalah sekolah-sekolah yang program pendidikannya bersifat umum dan bertujuan utam untuk melajutkan studi ketingkat yang lebih tinggi lagi. Sedangkan yang dimaksud sekolah kejuruan adalah sekolah-sekolah yang pendidikannya mengarah kepada pemberian bekal kecakapan atau keterampilan khusus setelah selesai studinya, anak didik dapat langsung memasuki dunia kerja dalam masyrakat.
Dengan melihat perbedaan program pendidikan (kurikulum dan tujuan) yang hendak dicapai maka struktur organisasi sekolah yang berlainan jenis tersebut pasti berlainan pula. Perbedaan organisasi ini mungkin dapat digambarkan antara lain sebagai berikut :
a.       Pada sekolah kejuruan terdapat petugas (koordinator) praktikum, sedangkan pada sekolah umum tidak.
b.      Pada sekolah kejuruan terdapat petugas bagian ketenaga kerjaan penempatan alumni, sedangkan pada sekolah umum tidak.

3.      Besar Kecilnya Sekolah

Sekolah yang besar tentulah memiliki jumlah mirid, jumlah kelas, jumlah tenaga guru, dan karyawan serta fasilitas yang memadai. Sekolah yang kecil adalah sekolah yang cukup memenuhi syarat minimal dari ketentuan yang berlaku.
Tipe sekolah secara implisit menunjukkan besar kecilnya sekolah yang bersangkutan. Dengan begitu akan mempengaruhi penyusunan struktur organisasi sekolah karena makin besar jumlah murid tentu saja semakin beraneka ragam kegiatan yang dapat dilakukan baik yang bersifat kurikuler maupun kegiatan-kegiatan penunjang pendidikan.

4.      Letak dan Lingkungan Sekolah
Letak sebuah sekolah dasar yang ada di daerah pedesaan aan mempengaruhi kegiatan sekolah tersebut, berbeda dengan sekolah dasar yang ada di kota, demikian pula sekolah lanjutan pertama yang kini mulai didirikan hampir di setiap daerah kecamatan, kegiatan dan programnya tentulah berbeda dengan sekolah-sekolah lanjutan di kota apalagi di kota besar. Ada kecenderungan yang nyata, bahwa sekolah-sekolah di pedesaan lebih berintegrasi dengan masyarakat sekitarnya. Hal ini berakibat pula ada hubungan yang lebih akrab diantara orang tua murid dengan sekolah.
Dari segi keadaan lingkungan atau masyarakat sekitar sekolah mungkin ada dalam lingkungan masyarakat petani, masyrakat nelayan, masyarakat buruh, masyarakat pegawai negeri, dan lain-lain. Perhatikan kelompok masyarakat yang berbeda ini terhadap dunia pendidikan bagi anak-anak mereka di sekolah pasti menunjukkan berbagai variasi perbedaan. Oleh karenanya dalam penyusunan struktur organisasi sekolah, hal-hal tersebut perlu diperhatikan.

H.  Contoh Susunan Organisasi Sekolah
Menurut Swastikalia (2012:22) Peranan dari masing-masing struktur organisasi sekolah, yaitu:
1.      Kepala Sekolah, berperan dalam dan bertugas sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator (EMASLIM).
Dalam penerapannya kepala sekolah bertugas memimpin dan mengkoordinasikan semua pelaksanaan rencana kerja harian, mingguan, bulanan catur wulan dan tahunan. Mengadakan hubungan dan kerjasama dengan pejabat-pejabat resmi setempat dalam usaha pembinaan sekolah.
2.      Menurut Suara Komunitas (2010:1) Komite Sekolah adalah “masyarakat sekolah yang peduli pendidikan yang berinteraksi satu sama lain”. Komite sekolah berperan dalam membina dan menghimpun potensi warga sekolah dalam rangka mendukung penyelenggaraan sekolah yang berkualitas.
3.      Bendahara Sekolah, berperan dalam mengatur sirkulasi keuangan sekolah, merumuskan anggaran yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sekolah dalam setiap tahun periode.
4.      Kepala Tata Usaha, berperan dalam menyusun program tata usaha sekolah, mengurus administrasi ketenagaan dan siswa, membina dan pengembangan karier pegawai tata usaha sekolah, menyusun administrasi perlengkapan sekolah, menyusun dan penyajian data/statistik sekolah, membuat laporan kegiatan tata usaha.
5.      Guru, berperan dalam mendidik, membimbing dan mengarahkan siswa dan siswi melalui proses belajar mengajar di sekolah serta berperan dalam pembentukan kepribadian, mental setiap siswa dan siswi.
6.      Penjaga Sekolah, berperan dalam mengurus, menjaga, mengawasi sarana dan prasana yang ada di Sekolah.
7.      Siswa, berperan dalam menjaga nama baik sekolah, menjaga kondusifnya lingkungan sekolah.
8.      Masyarakat Sekitar, berperan dalam menyuplai calon sumber daya manusia yang akan dididik di Sekolah, Membantu membantu menjaga agar sekolah kondusif dijadikan sebagai tempat menuntut ilmu, ikut membantu merumuskan potensi didaerah sekitar tersebut. 











BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Organisasi sekolah adalah sistem yang bergerak dan berperan dalam merumuskan tujuan pendewasaan manusia sebagai mahluk sosial agar mampu berinteraksi dengan guru, siswa, masyarakat sekitar. Organisasi tempat belajar bagaimana cara menyikapi diri kita ketika berhadapan dengan suatu masalah sehingga kita bisa menyelesaikannya. Organisasi menjadi proses pendewasaan agar kita dapat menyikapi masalah kita dengan baik dan kita juga mampu berinteraksi sebagai mana peran kita didalam suatu organisasi dan lingkungan masyarakat. Begitu pula dengan struktur organisasi sekolah. Struktur organisasi sekolah adalah struktur yang mendasari keputusan para Pembina atau Pendiri sekolah untuk mengawali suatu proses perencanaan sekolah yang strategis. Struktur oganisasi juga tidak lepas dengan wewenang dan tanggung jawab. Wewenang yaitu hak untuk memerintah orang lain untuk melalukan atau tidak melakukan sesuatu agar tujuan dapat tercapai. Tanggung jawab yaitu permintaan pertanggung jawaban atas pemenuhan tanggung jawab yang dilimpahkan kepadanya.  Pertanggung jawaban sendiri memiliki arti sebagai penjumlahan kegiatan yang telah dilakukan karena pendiskripsian wewenang. Selain itu ada juga pendekatan-pendekatannya, yaitu  peningkatan mutu pendidikan dan perencanaan pembangunan dengan demikian organisasi sekolah dapat mencapai tujuannya.
Usaha pengorganisasian sekolah adalah usaha untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja dan diharapkan bermuara pada produktivitas kerja yang terarah pada tujuan institusional masing-masing. Sekolah sebagai organisasi kerja yang didalamnya bekerjasama sejumlah personal dan sangat tergantung pada manuasia yang menjadi penggeraknya. Untuk itu pengorganisasian sebuah sekolah harus difokuskan pada usaha mengarahkan semua kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki sekolah untuk membantu perkembangan potensi yang dimiliki anak-anak secara maksimal, agar berguna bagi dirinya sendiri, masyarakatnya dan negeri ini.

B.     Saran
1.      Kelompok I, diharapkan agar menjadi referensi teoritis dan menjadi pengalaman yang berharga.
2.      Mahasiswa, Ikut dan terlibat dalam kegiatan organisasi internal dan eksternal kampus. Organisasi sebagai penuntun jalan demi pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan akan lebih efektif dengan adanya organisasi yang baik.
3.      Dosen, menjelaskan kepada mahasiswa arti penting dari organisasi sebagai salah satu metode untuk menumbuhkan karakter dan jiwa pemimpin.
4.      Sekolah, diharapkan agar terjadi pembagian kerja sebagai kegiatan pengendalian sehingga memungkinkan terjalinnya kerjasama antara kepala sekolah, kepala tata usaha, bendahara sekolah, guru, penjaga sekolah, siswa, masyarakat, dan komite sekolah.






DAFTAR PUSTAKA

Anonim. SMU Negeri 14 Jakarta. (Online) tersedia. http://smanegeri14jakarta.tripod.com/str_org.html

Aditya Media.Nawawi, Hadari. 1989. Organisasi Kelas sebagai Lembaga Pendidikan. Jakarta: Haji Masagung. (Online) tersedia. 25 April 2011. http://ermapoenya.blogspot.com/2010/07/manajemen-lembaga-dan-organisasi.html

Marlina. 2010. Struktur Organisasi. (Online) tersedia. 25 April 2011. http://marlinafis.blogspot.com/2010/04/sistem-dan-struktur-organisasi-sekolah.html

Pmancoffeemix. 2010. Kurikulum Organisasi Sekolah. (Online) tersedia. 25 April 2011. http://pmancoffeemix.wordpress.com/2010/12/18/kurikulum-tentang-organisasi-sekolah/

Direktorat Tenaga Kependidikan. 2008. Pendidikan dan Pelatihan Pengorganisasian Sekolah. (Online) tersedia. 25 April 2011. www.google.com/pengorganisasian sekolah 1

Komunitas, Suara. 2010. Organisasi Sekolah. (Online). Diakses di Warkop 115 pada tanggal 2              Oktober 2012. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/04/organisasi-sekolah/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar